MENGKAJI MISTERI ISRA MI’RAJ DENGAN ILMU PENGETAHUAN
(Surat Al-Israa’ ayat 1)

Bila kita membaca kembali tentang Misteri 7 Lapisan Langit dan perjalanan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad, ternyata dimensi kita saling berkaitan dengan dimensi lainnya. Artinya ditempat yang sama kita pijak sekarang juga letaknya sama dengan dimensi lainnya hanya saja dimensinya yang berbeda.  Itu berarti pintu menuju Sidratul Muntaha terletak di Masjidil Aqsa Palestina karena sebenarnya Rasulullah tidak berpindah kemanapun melainkan tetap berada di Masjidil Aqsa hanya saja beliau pindah dimensi.  Dan kemudian beliau menuju Sidratul Muntaha, artinya Sidratul Muntaha di dimensi tertinggi  yang sebenarnya adalah di Masjidil Haram atau Ka’bah di dimensi kita.
Mari kita mengkaji misteri tentang isra mi’raj ini, namun ini bukan untuk mencari kebenarannya dan mematahkannya, tetapi ini sebagai renungan dan ilmu yang bermanfaat untuk menambah pengetahuan kita agar semakin percaya dan memperkuat iman. Jadi anggaplah ini sekedar cerita atau sharing yang letak kebenaran sesungguhnya ada didalam kalbu kita masing2. 
Cerita mengenai luasnya alam semesta ini sebenarnya bisa dijelaskan melalui peristiwa perjalanan Rasulullah saat Isra’ Mi’raj. Saya baru menyadari akan hal ini, padahal Isra’ Mi’raj selalu saya ikuti tapi yang diambil hikmahnya hanya perintah menunaikan ibadah Shalat lima waktu.  Ternyata ada ilmu pengetahuannya bila kita lihat dari sudut pandang yang berbeda, yaitu segi keilmuan.
Cahaya mempunyai panjang gelombang antara 3800 angstrom sampai 7500 angstrom; dimana 1 angstrom = 10-8 cm.
Pernahkah para ilmuwan melihat cahaya atau elektron atau Gelombang? Tidak pernah! Ia bahkan tidak akan pernah tahu apa persisnya semua itu.? Sebetulnya istilah-istilah atom, proton, dan sebagainya, semua hanyalah “model”. Artinya nama-nama tersebut dikaitkan dengan suatu gejala tertentu, sedemikian rupa sehingga dengan model itu para ilmuwan akan lebih mudah bekerja lebih jelasnya disini.
Banyak para ilmuwan merasa azas ketidakpastian Heisenberg adalah sifat hakiki alam semesta. Mereka yakin, detail paling halus dalam kosmos sering diliputi kekaburan. Ia tak kan pernah dapat diterangkan atau diatasi oleh ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan tak kan sanggup mengenal hakekat segala seseuatu lalu apakah itu tentang kecepatan cahaya ?.
Adalah kecepatan terbesar yang diyakini bisa dicapai oleh sebuah benda di alam semesta ini, berapa kecepatan terbesar yg bisa di capai itu? Kurang lebih 300.000 km/detik, bayangkan… mobil yang kita kendarai di jalanan itu kurang lebih 140 km/jam, itu aja kita merasakan sudah melaju dengan sangat cepat , apalagi kalo naik sepeda motor…rasanya ngeri banget dengan kecepatan seperti itu….?. Apalagi bila kita mengendarai sebuah benda yang kecepatannya 300.000 km/detik…bisa anda bayangkan ?. Berarti itu adalah hal yang mustahil….! Lalu pertanyaannya adakah seorang manusia yg pernah mengendarai kecepatan itu ?
Allah Swt berfirman di dalam Alquran Surah Al-Israa’ ayat 1:
“Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hambaNya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda–tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
Dari ayat tersebut tampak jelas bahwa perjalanan luar biasa itu bukan kehendak dari Rasulullah Saw sendiri, tapi merupakan kehendak Allah Swt. Untuk keperluan itu Allah mengutus malaikat Jibril as (makhluk berdimensi 9) beserta malaikat lainnya sebagai pemandu perjalanan suci tersebut. Dipilihnya malaikat sebagai pengiring perjalanan Rasulullah Saw dimaksudkan untuk mempermudah perjalanan melintasi ruang waktu.
Selain Jibril as dan kawan-kawan, dihadirkan juga kendaraan khusus bernama Buraq, makhluk berbadan cahaya dari alam malakut. Nama Buraq berasal dari kata barqun yang berarti kilat. Kendaraan yang digunakan Rasulullah adalah Bouraq, yang hingga saat ini bentuknya masih menjadi perdebatan.  Bouraq merupakan sebuah kendaraan bukan mesin seperti yang manusia ciptakan, kecepatannya pun tidak bisa dibayangkan dengan ilmu manusia.  Bouraq memiliki kemampuan untuk menembus antar dimensi dan tidak terpengaruh dengan hukum fisika dan aerodinamika yang berlaku. Perjalanan dari kota Makkah ke Palestina berkendaraan Buraq tersebut ditempuh dengan kecepatan cahaya, sekitar 300.000 kilo meter per detik.
Rasulullah saw. bersabda, “Didatangkan untukku Buraq yang merupakan hewan putih, panjangnya diatas himar dan dibawah bagal, kukunya berada di akhir ujungnya.”  Bouraq tercipta dari cahaya, saya juga tidak yakin kalo bouraq itu berbentuk kuda dengan sayap dan berkepala wanita seperti yang didebatkan, yang jelas itu adalah kendaraan yang luar biasa hebat dan memiliki kecepatan yang melebihi kecepatan cahaya.   Artinya untuk menyusuri alam semesta yang luas ini tidak mungkin dicapai dengan mesin yang diciptakan oleh manusia, karena manusia memiliki banyak keterbatasan.
Untuk masuk ke langit pertama hingga ketujuh, diceritakan bahwa Rasulullah harus bertemu dengan penjaga pintu dan meminta izin untuk membukanya yang kemudian menuju pintu berikutnya.  Subhanallah, berarti tidak sembarang manusia bisa menembus dan berpetualang jauh ke alam semesta ini.  Dari cerita Rasulullah sudah jelas digambarkan bahwa alam semesta ini sangatlah luas, tidak bisa kita kalikan dengan berapa tahun cahaya atau berapa kilometer kubik luasnya.
Perjalanan ini memang terlalu dahsyat bagi seorang manusia. Jangankan manusia biasa, Rasulullah saw pun tidak bisa jika tidak diperjalankan oleh Allah. Karena itu Allah lantas mengutus malaikat Jibril untuk membawa Nabi melanglang ‘ruang’ dan ‘waktu’ di dalam alam semesta ciptaan Allah. Jibril sengaja dipilih oleh Allah untuk mendampingi perjalanan beliau mengarungi semesta, karena Jibril adalah makhluk dari langit ke tujuh yang berbadan cahaya. Dengan badan cahayanya itu, Jibril bisa membawa Rasulullah saw melintasi dimensi-dimensi yang tak kasat mata.
Pertanyaan mendasar adalah bagaimanakah perjalanan dengan kecepatan cahaya itu dilakukan oleh badan Rasulullah Saw yang terbuat dari materi padat? Untuk malaikat dan Buraq tidak ada masalah karena badan mereka terbuat dari cahaya juga. Seandainya badan bermateri padat seperti tubuh kita dipaksakan bergerak dengan kecepatan cahaya, bisa diduga apa yang akan terjadi. Badan kita mungkin akan terserai berai karena ikatan antar molekul dan atom bisa terlepas.
Di sinilah mulai muncul pertanyaan dan kontradiksi. Dalam ilmu Fisika Modern diketahui bahwa kecepatan tertinggi di alam semesta adalah cahaya. Tidak ada kecepatan lain yang lebih tinggi darinya.
Kecepatan yang setinggi itu tidak bisa dilakukan oleh sembarang benda. Hanya sesuatu yang sangat ringan saja yang bisa memiliki kecepatan demikian tinggi itu. Bahkan saking ringannya, maka sesuatu itu harus tidak memiliki massa atau bobot sama sekali. Jika sesuatu masih memiliki bobot meskipun hampir nol ia tidak bisa mengalami kecepatan cahaya. Yang bisa melakukan kecepatan itu cuma photon saja, yaitu kuantum-kuantum penyusun cahaya. Bahkan elektron yang bobotnya dikatakan hampir nol pun tidak bisa memiliki kecepatan setinggi itu.
Kalau kita mencoba memahami zat-zat penyusun tubuh manusia, maka kita akan mendapati bahwa badan kita tersusun dari organ-organ tubuh, seperti otak, jantung, paru-paru, liver, daging, tulang dan lain sebagainya.
Berbagai organ tubuh itu juga tersusun dari bagian yang lebih kecil yang disebut sel. Ada sel-sel jantung, ada sel-sel otak, sel darah, sel tulang, sel saraf, daging, liver dan lain sebagainya.
Jika dilihat lagi penyusunnya, maka berbagai macam sel itu tersusun dari molekul-molekul. Baik yang sederhana maupun molekul yang sangat kompleks. Mulai dari H2O sampai pada rantai molekul asam amino atau protein-protein kompleks lainnya.
Dan kalau kita cermati lebih mendetil lagi, maka molekul molekul itu juga tersusun dari bagian-bagian yang lebih kecil yang disebut atom. Ada miliaran atom yang menyusun tubuh manusia. Dan seterusnya, atom ternyata juga tersusun dari partikel-partikel sub atomik seperti proton, neutron, elektron dan lain sebagainya.
Seluruh bagian-bagian penyusun itu bergandengan satu sama lain dengan menggunakan energi ikat, supaya tidak tercerai-berai. Partikel-partikel sub atomik bergandengan membentuk atom. Atom atom bergandengan membentuk molekul. Demikian pula berbagai jenis molekul bergandengan membentuk sel-sel tubuh dan seluruh organ. Dan kemudian organ-organ itu berkolaborasi membentuk badan kita.
Seorang manusia lantas memiliki bobot yang cukup berat, berpuluh-puluh kilo. Maka, ‘benda’ yang seberat itu tentu tidak bisa dipercepat dengan kecepatan tinggi, sebagaimana photon-photon cahaya yang tidak punya bobot.
Selain berat, sistem tubuh kita juga tidak bisa dipercepat terlalu tinggi. Jangankan setinggi kecepatan cahaya, dengan percepatan beberapa kali gravitasi Bumi (G) saja sudah akan mengalami kendala serius. Dan bisa meninggal Dunia.
Bayangkan seorang pilot pesawat tempur. Ketika ia melakukan manuver di angkasa, ia sebenarnya sedang melakukan gerakan-gerakan yang berbahaya bagi tubuhnya. Terutama otak dan jantungnya.
Misalkan, ketika ia melakukan gerakan vertikal naik ke langit atau maneuver ‘jatuh’ ke Bumi. Saat itu, badannya bakal mengalami tekanan alias bebal yang sangat besar, bergantung pada besarnya percepatan yang dia lakukan.
Jika dia bermanuver ke langit dengan percepatan 2 kali gravitasi Bumi (2G), maka badannya akan mengalami tekanan dua kali lipat dari biasanya. Kalau bobot badannya pada kondisi normal 80 kg, misalnya, maka pada saat melakukan maneuver itu bobotnya akan menjadi 160 kg.
Demikian pula anggota-anggota badannya juga akan mengalami perlipatan bobot. Jika kepalanya berbobot 10 kg, maka pada saat bermanuver 2G itu kepalanya akan memiliki bobot 20 kg. Demikian pula tangannya, kakinya, dan seluruh organ tubuhnya menjadi 2 kali lipat bobot semula.
Maka, anda bisa bayangkan betapa otot-otot tubuhnya akan terbeban dengan beban yang jauh lebih berat dari biasanya. Itu kalau percepatannya menjadi dua kali lipatnya. Padahal, banyak pilot pesawat tempur melakukan manuver sampai 5G, 5 kali gravitasi Bumi. Anda bisa bayangkan berapa bobotnya ketika itu.
Kepalanya menjadi berbobot 50 kg, tangannya menjadi 25 kg, kakinya menjadi 30 kg, dan seterusnya. Bisa-bisa sang pilot tidak mampu mengangkat kepala, karena otot lehernya tidak terlatih. Atau bisa jadi tangannya menjadi sulit digerakkan untuk menggerak kemudi, karena ototnya mendadak seperti lemas tak bertenaga.
Bahkan bukan hanya itu, otak si pilot bisa mengalami problem juga. Sebagai contoh, Anda pernah naik lift yang kecepatannya agak tinggi? Nah, pada saat lift itu bergerak terasa ada tekanan di otak kita, ‘nyuuut’!
Kalau percepatannya lebih tinggi lagi, rasa ‘nyuut’ di otak itu akan semakin besar. Seperti orang yang jatuh bebas ke dalam sebuah sumur yang dalam. Bisa-bisa seseorang akan mengalami ‘hilang kesadaran’. Apalagi manuver pilot dengan percepatan sampai 5G. Pilot yang tidak terlatih bisa-bisa mengalami black out alias semaput atau pingsan di angkasa.
Apa yang saya ceritakan di atas adalah kecepatan-kecepatan yang masih tergolong rendah untuk ukuran alam semesta. Itu saja, badan manusia sudah tidak kuat menanggung bebannya. Apalagi jika kita bermain-main dengan kecepatan cahaya, yang per detiknya bisa mencapai 300.000 km. Sungguh, badan manusia tidak akan mampu menahannya.
Efek yang bakal terjadi bukan hanya pingsan. Tetapi lebih dahsyat dari itu, badan manusia akan tercerai-berai menjadi partikel partikel sub atomik, sebelum mencapai kecepatan cahaya. Kenapa bisa demikian ?
Sebagaimana saya jelaskan di atas, tubuh manusia tersusun dari partikel-partikel sub atomik yang saling bergandengan menggunakan binding energy alias ‘energi ikat’. Nah, ketika dipercepat dengan kecepatan sangat tinggi, maka muncullah gaya yang berlawanan dengan energi ikat tersebut. Semakin tinggi kecepatan yang diberikan kepada benda, maka energi yang melawan binding energy tersebut semakin besar. Sehingga, suatu ketika tubuh manusia itu akan ‘buyar’ menjadi partikel-partikel kecil.
Hal ini bisa diumpamakan dengan contoh berikut. Ada sejumlah orang bergandengan tangan, berderet ke samping. Sederet orang tersebut lantas disuruh berpusing, dengan salah satunya menjadi pusat putarannya. Semakin cepat, dan semakin cepat. Maka apakah yang terjadi? Suatu ketika pegangan tangan mereka tidak mampu lagi untuk saling berjabatan, disebabkan oleh kekuatan putar itu telah memunculkan tenaga yang melawan kekuatan pegangan mereka. Akhimya, pegangan tangan mereka pun terlepas. Mereka jatuh bergelimpangan.
Hal inilah yang bakal terjadi pada tubuh manusia yang melesat dengan kecepatan tinggi. Bahkan, jauh sebelum badannya terburai menjadi partikel-partikel sub atomik, organ-organ tubuhnya sudah rusak duluan. Jantungnya berhenti berdenyut, diikuti kesadaran yang menghilang, dan kemudian disusul gagalnya fungsi seluruh organ-organ tubuhnya.
Dengan demikian, maka secara ilmiah memang sulit untuk mengatakan bahwa Rasulullah saw melakukan perjalanan tersebut dengan badan wadag nya yang normal. Beliau tidak akan bisa bergerak sekencang malaikat Jibril dan Buraq, karena badannya memang bukan terbuat dari cahaya.
Jawaban yang paling mungkin untuk pertanyaan itu adalah tubuh Rasulullah Saw diubah susunan materinya menjadi cahaya. Bagaimanakah hal itu mungkin terjadi?
Teori yang memungkinkan adalah teori Annihilasi. Teori ini mengatakan bahwa setiap materi (zat) memiliki anti materinya. Dan jika materi direaksikan dengan anti materinya, maka kedua partikel tersebut bisa lenyap berubah menjadi seberkas cahaya atau sinar gamma.
Hal ini telah dibuktikan di laboratorium nuklir bahwa jika partikel proton direaksikan dengan antiproton, atau elektron dengan positron (anti elektron), maka kedua pasangan tersebut akan lenyap dan memunculkan dua buah sinar gamma, dengan energi masing-masing 0,511 MeV (Multiexperiment Viewer) untuk pasangan partikel elektron, dan 938 MeV untuk pasangan partikel proton.
Sebaliknya apabila ada dua buah berkas sinar gamma dengan energi sebesar tersebut di atas dilewatkan melalui medan inti atom, maka tiba-tiba sinar tersebut lenyap berubah menjadi 2 buah pasangan partikel tersebut di atas. Hal ini menunjukkan bahwa materi bisa dirubah menjadi cahaya dengan cara tertentu yang disebut annihilasi dan sebaliknya.
Teori ini bisa kita gunakan untuk menjelaskan proses perjalanan Rasulullah saw pada etape pertama ini. Agar Rasulullah saw dapat mengikuti kecepatan Jibril dan Buraq, maka badan wadag Rasulullah saw diubah oleh Allah menjadi badan cahaya. Hal ini dimaksudkan untuk ‘mengimbangkan’ kualitas badan Nabi dengan Jibril dan Buraq yang menjadi ‘kawan seperjalanan’ beliau. Seperti kita ketahui bahwa Jibril dan Buraq adalah makhluk berbadan cahaya.
Kapankah hal itu dilakukan? Tentu sebelum beliau berangkat. Kemungkinannya, ketika Jibril mengajak Nabi untuk mensucikan hati beliau dengan menggunakan air Zam zam.
Telah diceritakan bahwa sebelum berangkat Rasulullah saw disucikan menggunakan air Zam zam oleh Jibril. Di riwayat yang lain, diceritakan bahwa Jibril mengoperasi hati Rasulullah saw dan mensucikannya dengan air Zam zam.
Manusia adalah sebuah sistem energi yang berpusatkan di hati. Seluruh perubahan yang terjadi pada sistem energi tubuh seseorang bisa tercermin di frekuensi hatinya. Sebaliknya, karena hati menjadi pusat sistem energi itu, maka jika ingin melakukan perubahan terhadap sistem tersebut juga bisa dilakukan ‘mereaksikan’ hatinya.
Itulah, agaknya, yang terjadi pada Rasulullah saw saat ‘dioperasi’ oleh malaikat Jibril, di dekat sumur Zam-zam. Jibril melakukan manipulasi terhadap sistem energi dalam tubuh Rasulullah. Seluruh badan material Rasulullah di ‘annihilasi’ oleh Jibril menjadi badan cahaya. Sebagai makhluk cahaya yang cerdas, Jibril paham betul tentang proses-proses annihilasi. Sebagaimana firman Allah dalam An-Najm :6 “yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli.”
Maka, dalam sekejap, tubuh material Nabi pun berubah menjadi tubuh cahaya. Dan beliau siap melakukan perjalanan bersama Jibril dan Buraq, sebab ketiga-tiganya telah memiliki kualitas badan yang sama, yaitu badan cahaya. Maka Allah pun memperjalankan ketiganya menuju masjid al Aqsha di Palestina.
Setelah ketiganya siap, maka mereka segera berangkat dan melesat dengan kecepatan sangat tinggi sekitar 300.000 km per detik. Ya, ketiga makhluk cahaya itu melesat menempuh perjalanan Mekkah Palestina yang berjarak 1500 km itu hanya dalam waktu sekejap mata saja. Atau lebih detilnya sekitar 0,005 detik, dalam ukuran waktu manusia di bumi!
Namun demikian, Rasulullah saw melakukannya dengan kesadaran penuh. Adanya relativitas waktu antara Dunia manusia dengan Dunia malaikat menyebabkan Rasulullah merasakan sepenuhnya perjalanan itu. Sehingga segala peristiwa yang terjadi dalam perjalanan, beliau bisa mengingat dan menceritakan kembali.
Bayangkan seperti orang yang lagi bermimpi. Meskipun orang tersebut hanya bermimpi selama 1 menit, tetapi dia bisa bercerita tentang mimpinya yang ‘sangat panjang’. Kenapa demikian? Karena waktu yang berjalan di Dunia mimpi dan Dunia nyata berbeda. 
Sama dengan yang terjadi pada Rasulullah saw. Pada waktu itu, beliau tidak sedang bermimpi. Beliau betul-betul melakukan perjalanan dengan badannya. Tetapi badan yang sudah diubah menjadi cahaya. Nah, karena ada relativitas waktu, maka waktu yang sekejap itu pun bagi Rasulullah sudah, cukup untuk menangkap seluruh kejadian yang dialaminya.
Maka, tidak heran jika beliau bisa menjawab berbagai, pertanyaan orang kafir yang ingin mengujinya. Di antaranya, beliau bisa bercerita betapa dalam perjalanan itu ada sekelompok kafilah atau pedagang yang unta dan kudanya lari ketakutan, saat Rasulullah saw dan Jibril melintas di dekatnya. Para kafilah itu tidak bisa melihat Rasulullah yang berbadan cahaya, tetapi rupanya unta dan kuda-kuda mereka bisa merasakan kehadiran Rasulullah, Jibril dan Buraq yang melintas dengan kecepatan sangat tinggi.
Sesampainya di Palestina tubuh Rasulullah Saw dikembalikan menjadi materi. Peristiwa ini mungkin lebih dikenal seperti teleportasi dalam teori fisika kuantum. Dari Palestina dilanjutkan dengan perjalanan antar dimensi ke Sidratul Muntaha, yakni dari langit dunia (langit pertama) ke langit kedua, ketiga sampai dengan langit ketujuh dan berakhir di Sidratul Muntaha.
Dengan kecepatan buraq (yang kecepatannya melebihi kecepatan cahaya yakni diatas 300rb km/dtk), Rasulullah tidaklah mengarah ke masa depan. Namun kembali ke masa lalu. Dan, memasuki masa lalu itulah Rasulullah memberangkatkan perjalanannya. Perjalanan ini hakikatnya adalah perjalanan menembus batas dimensi ruang dan waktu dan bukan pengembaraan ruang angkasa.
Seiring guliran waktu, perjalananpun melaju ke titik saat Rasulullah hendak memulai. Sehingga seolah-olah Rasulullah melakukan perjalanan Isra` Mi`raj hanyalah sesaat. Padahal, hakikatnya, beliau pun menjalani Isra` Mi`raj, berdasarkan perhitungan waktu pribadinya, yang lazimnya menghabiskan waktu yang lama.
Yang perlu dipahami adalah perjalanan antar dimensi bukanlah perjalanan berjarak jauh atau pengembaraan angkasa luar, melainkan perjalanan menembus batas dimensi. Karena walaupun tubuh Rasulullah Saw diubah menjadi cahaya seperti perjalanan dari Mekkah ke Palestina, tidak akan selesai menempuh perjalanan di langit pertama saja. Bukankah untuk menempuh diameter alam semesta diperlukan 30 miliar tahun dengan menggunakan kecepatan cahaya. Jadi bagaimana caranya?
Posisi langit kedua dengan langit pertama dianalogikan seperti sebuah ruangan berdimensi 3 dengan dinding tembok berdimensi 2 dan balok di dalam ruangan. Makhluk bayangan berdimensi 2 di tembok tidak bisa memasuki ruangan berdimensi 3, kecuali ada bantuan dari makhluk berdimensi lebih tinggi, minimal dari makhluk berdimensi 3. Caranya si balok menempelkan salah satu sisinya ke tembok dan makhluk bayangan menempelkan diri ke sisi balok itu. Dengan menempel di sisi balok dan mengikutinya, makhluk bayangan bisa memasuki ruang berdimensi 3 dan meninggalkan wilayah berdimensi 2, yakni dinding tembok.
Begitulah kira-kira analogi bagaimana Rasulullah Saw melakukan perjalanan antar dimensi. Dengan kehendak Allah Swt, Jibril membawa Rasulullah Saw melakukan perjalanan dari langit pertama hingga langit ketujuh lalu ke Sidratul Muntaha. Perjalanan ini bukan perjalanan jauh seperti telah disebutkan tadi. Kejadian itu terjadi di tempat Rasulullah Saw terakhir duduk shalat di Masjidil Aqsa Palestina, karena ruang berdimensi 4, 5 dan seterusnya itu persis berada di sebelah kita, hanya kita tidak melihatnya dan tidak bisa mencapainya.
Wajar saja perjalanan Isra Miraj Rasulullah Saw dari Mekkah ke Palestina dan kemudian dilanjutkan dengan perjalanan ke Sidratul Muntaha hanya terjadi dalam semalam. Bayangkan dalam zaman ketika pemahaman manusia tentang sains dan teknologi belum seperti sekarang, seorang Abu Bakar Ash Shiddiq Ra. Sahabat yang suci bisa beriman dan menerima kebenaran cerita Rasulullan Saw tanpa sanggahan.
Begitu dekatnya jarak alam dunia (langit pertama) dengan alam akhirat (langit ketujuh) yang sangat dekat sudah digambarkan oleh hadist dari Jabir bin Abdullah. Ketika itu Rasulullah Saw didatangi oleh lelaki berwajah bersih dan berbaju putih (yang ternyata adalah malaikan Jibril as yang memasuki dimensi alam manusia) :
Bertanya orang itu lagi (yakni Jibril as), “Berapakah jaraknya dunia dengan akhirat?” Bersabda Rasulullah SAW, “Hanya sekejap mata saja.” 
Wallahua’lam
Perkembangan ilmu pengetahuan terus saja mencari jawaban atas peristiwa-peristiwa ini. Seiring dengan kontroversi tentang isra mi’raj itu, muncullah argument-argumen yang mencoba menjelaskannya. Misalnya saja Simetri yang hilang terkait dengan salah satu misteri besar dalam Fisika. Dentuman besar yang menjadi aliran mainstream memodelkan bahwa di awal pembentukan Alam Semesta terdapat lautan partikel-antipartikel dengan jumlah yang identik. Pada suatu ketika, partikel-antipartikel ini saling berbenturan dan saling menghilangkan (ini disebut proses annihilation) kemudian menghasilkan radiasi elektromagnetik (cahaya). Yang menjadi pertanyaan, kalau semua saling menghilangkan, dari mana asal materi (planet, bintang, galaksi…) yang menjadi salah satu komponen isi Alam Semesta sekarang ini?
Pengkhianatan antipartikel
Sejauh yang saya mengerti, ada dua hipotesis untuk menjawab pertanyaan ini. Hipotesis pertama terdapat dalam penjelasan “perubahan quark-antiquark oleh duo Kobayashi-Maskawa (baca: Nobel Fisika 2008: Simetri Yang Hilang) pada tahun 1972. Proses ini memungkinkan sejumlah antipartikel “berkhianat” dengan cara berubah menjadi partikel sehingga jumlah partikel lebih banyak daripada antipartikel. Ketika terjadi tumbukan partikel-antipartikel, jumlah mereka tidak lagi simetri sehingga pada akhirnya sejumlah kecil partikel selamat dan membangun isi Alam Semesta yang kita kenal sekarang.
Sekitar tahun 2001, dua eksperimen terpisah, detektor BaBar di Standford (Amerika Serikat) dan detektor Belle di Tsukaba (Jepang), mendeteksi pelanggaran simetri yang diprediksi oleh Kobayashi dan Maksawa.
Kebunglonan Neutrino
Neutrino merupakan partikel elementer yang tak bermassa dan tak bermuatan yang dapat menembus permukaan logam. Beberapa neutrino sedang menembus tubuhmu saat membaca tulisan ini. Partikel phantom ini diproduksi di dalam inti bintang dan ledakan supernova. Detektor diletakkan di bawah permukaan bumi, di bawah permukaan laut, atau ke dalam bongkahan besar es sebagai bagian dari IceCube, sebuah proyek khusus untuk mendeteksi keberadaan neutrino.
Hipotesis kedua berkenaan dengan kemungkinan “ke-bunglon-an” partikel-hantu neutrino. Neutrino adalah partikel elementer yang masuk dalam keluarga lepton yang bermuatan nol. Karena tidak bermuatan, antipartikel dari neutrino (disebut antineutrino) boleh jadi adalah dirinya sendiri. Partikel yang memenuhi kriteria ini disebut “majorana particle” (teori yang diusulkan oleh Ettore Majorana pada tahun 1937). Jika neutrino adalah partikel majorana, maka bisa jadi setelah proses annihilation partikel-antipartikel terjadi masih tersisa neutrino. Jika memang demikian, maka neutrinolah yang membuat Alam Semesta kita.
Untuk membuktikan apakah neutrino adalah partikel majorana atau tidak, salah satu metode adalah mengamati peluruhan beta ganda tanpa neutrino (neutrinoless double beta decay). Eksperimen ini telah menjadi obsesi banyak orang semenjak disadari bahwa neutrino memiliki massa, sebuah konsep yang belum terpikirkan sebelumnya oleh Enrico Fermi dan Wolfgang Pauli (penggagas ide partikel-hantu Neutrino), bahkan oleh Paul Dirac (pemberi teori partikel fermion, termasuk neutrino). Permasalahan massa neutrino kita bahas pada kesempatan berikutnya.
Salah satu eksperimen yang menarik perhatian saya adalah Enriched Xenon Observatory 200 (EXO-200) yang beritanya sempat diturunkan di blog.wired.com 24 Oktober 2008 yang lalu.
Kita dapat mendeteksi antipartikel, memakai detektor yang sama dipakai untuk mendeteksi partikel. Antipartikel pertama kali berhasil dideteksi oleh Carl Anderson tahun 1932. Anderson mendapat Nobel karena temuannya itu pada tahun 1936.
Energy vakum
Fisika Kuantum menjelaskan kepada kita bahwa kebalikan dari penampakan, ruang kosong adalah gelembung buatan dari partikel subatomik virtual yang secara konstan diciptakan dan dihancurkan. Partikel-partikel yang menempati tiap sentimeter kubik ruang angkasa dengan energi tertentu, berdasarkan teori relativitas umum, memproduksi gaya antigravitasi yang membuat ruang angkasa semakin mengembang. Sampai sekarang tidak ada yang benar-benar tahu penyebab ekspansi alam semesta.
Antimateri
Seperti sisi jahat Superman, Bizzaro, partikel (materi normal) juga mempunyai versi yang berlawanan dengan dirinya sendiri yang disebut antimateri. Sebagai contoh, sebuah elektron memiliki muatan negatif, namun antimaterinya positron memiliki muatan positif. Materi dan antimateri akan saling membinasakan ketika mereka bertabrakan dan massa mereka akan dikonversi ke dalam energi melalui persamaan Einstein E=mc2. Beberapa desain pesawat luar angkasa menggabungkan mesin antimateri.
Manusia hanya bisa memperkirakan apa yang sesungguhnya terjadi dikaitkan dengan keterbatasan ilmu yang dimiliki manusia. Sampai pada suatu ketika manusia sedikit “meraba” dengan penemuan ilmiah nya untuk menjabarkan kejadian itu dengan akal manusia. Tepat 1000tahun setelah peristiwa isra mi’raj lahirlah teory relatifitas yang ditemukan oleh manusia jenius Albert Einstein.
Einstein menerangkan bahwa tidak ada sesuatu yang mutlak dalam kehidupan ini. Segala sesuatu relatif dalam gerak dan kedudukannya.Jarum jam yang bergerak cepat mengukur waktu, ada kalanya menjadi lambat bahkan pada satu titik masa, berhenti sama sekali. Juga jantung yang berdenyut menandai usia, dapat mengalami kelambatan hingga usia pun berjalan lebih lambat dari yang semestinya.Einstein merumuskan 

t’= waktu benda yang bergerak
t = waktu benda yang diam
v = kecepatan benda
c = kecepatan cahaya
Dimana perbandingan nilai kecepatan suatu benda dengan kecepatan cahaya, akan berpengaruh pada keadaan benda tersebut. ketika kecepatan benda menyamai kecepatan cahaya (v=c), benda itu pun sampai pada satu keadaan nol.Namun jika kecepatan benda dapat melampaui kecepatan cahaya (v>c), keadaan pun berubah. Efek yang dialami adalah percepatan waktu.
Seseorang yang meluncur ke angkasa dengan pesawat yang berkecepatan mendekati kecepatan cahaya, maka ia akan mengalami perlambatan usia yang lebih lambat dari yang semestinya di bumi. Ketika kembali ke bumi ia akan mendapati waktu di bumi telah berputar lebih cepat dari waktu yang telah dialaminya diangkasa. Namun jika kecepatannya ditambahkan hingga melampaui batas kecepatan cahaya, yang akan dialaminya adalah percepatan waktu bagi dirinya dibanding waktu dibumi. Ketika kembali ke bumi ia kembali ke masa lalu. Ia telah menjadi peziarah masa lalu.
Teori Einstein ini terbukti tahun 1994 , saat sebuah pesawat sipil Italia terbang di angkasa pantai Afrika. Tiba-tiba, pesawat lenyap dari layar radar di ruang kontrol. Di saat petugas bandara di landa kecemasan, pesawat sipil itu muncul lagi di ruang udara semula, dan radar dapat melacak kembali sinyal pesawat tersebut. Terakhir, pesawat sipil ini berhasil mendarat dengan mulus di bandara wilayah Italia. Namun, awak pesawat dan 315 penumpangnya sama sekali tidak tahu bahwa mereka pernah lenyap.
Dengan perasaan bingung kapten pilot berkata: “Pesawat kami tampak stabil setelah lepas landas dari Manila, dan tidak terjadi insiden apapun, namun, di luar dugaan petugas di ruang kontrol melaporkan kehilangan jejak pesawat, memang agak tidak normal”
Tetapi, kenyataannnya tidak dapat dibantah: ketika tiba di bandara, jam setiap penumpang terlambat 20 menit.
Juga di saat yang sama saat itu, sebuah tim arkeologi yang dibentuk oleh arkeolog Perancis, tiba di daerah aktivitas pertama manusia di tepi Sungai Nil untuk riset ilmiah. Di sana mereka menemukan sebuah Kuil Dewa Matahari, dan hingga kini sudah 4000 tahun sejarahnya. Karena tak pernah dikunjungi manusia, kuil itu sudah lama runtuh, yang tersisa hanya puing-puing reruntuhan, sehingga tampak sunyi dan rongsok.
Ketika arkeolog menggali reruntuhan tersebut, di bawah sebuah tonggak batu kuno, mereka menemukan sekeping uang perak terkubur di bawah tanah. Namun anehnya, itu bukan uang perak Mesir kuno, melainkan sekeping uang perak Amerika. Yang lebih mengherankan lagi, itu bukan uang perak kuno Amerika, tapi sekeping uang perak zaman sekarang.
Namun, yang tak habis dimengerti adalah: Itu adalah uang perak dengan nilai nominal 25 sen dollar AS yang telah di cetak dan “belum diedarkan” yang masih tertinggal di kas negara Amerika, yang rencananya baru akan diedarkan pada tahun 1997!!
Mengapa uang perak AS zaman sekarang bisa berada di dalam kuil Mesir kuno pada 4000 tahun silam? Para ilmuwan benar-benar bingung dibuatnya. Teory inilah yang mungkin menjabarkan perjalanan Rasulullah saat isra mi’raj.